Laman

Senin, 03 Mei 2010

Gubernur Tanggapi Protes Wisatawan Soal Penyiksaan Kuda

Gubernur Tanggapi Protes Wisatawan Soal Penyiksaan Kuda
Mataram (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Barat TGH M Zainul Majdi menanggapi protes sejumlah wisatawan soal penyiksaan kuda penarik cidomo di objek wisata tiga gili Trawangan, Meno dan Air, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara.
"Untuk membuktikan kebenaran informasi mengenai perlakuan tidak layak terhadap kuda penarik cidomo (alat transportasi tradisional Lombok) di Gili Trawangan itu gubernur memerintahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Peternakan untuk mencari informasi di lapangan," kata juru bicara Pemprov NTB Lalu Mohammad Faozal di Mataram, Senin.
Seusai mendampingi Gubernur NTB memimpin rapat koordinasi dengan pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD), dia mengatakan gubernur prihatin sehubungan dengan adanya informasi mengenai penyiksaan terhadap kuda penarik di Gili Trawangan yang kemudian memunculkan komplin dari banyak wisatawan mancanegara.
Karena itu, kata Faozal, gubernur segera menurunkan tim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Peternakan untuk membuktikan apakah memang benar informasi adanya penyiksaan kuda penarik cidomo di Trawangan, karena hal ini berdampak negatif terhadap citra pariwisata NTB.
Sejumlah media massa menyiarkan kuda-kuda yang digunakan sebagai penarik alat transportasi tradisional (cidomo) di Gili Trawangan hidup dalam kondisi memprihatinkan karena tidak mendapatkan perawatan yang baik.
Para wisatawan mancanegara yang mengunjungi objek wisata terkenal tersebut memprotes perlakukan tidak layak kepada hewan tersebut.
Organisasi penyayang binatang "Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mengaku pada tahun lalu menerima banyak komplin dari para wisatawan tentang perlakuan buruk terhadap kuda yang menjadi satu-satunya alat transportasi di objek wisata tiga gili tersebut.
Informasi serupa juga juga diperoleh dari "People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) dengan menyebut kuda-kuda yang bekerja sebagai penarik cidomo di pulau-pulau itu menjalani hidup sengsara.
"Karena banyaknya komplin itulah JAAN memutuskan melakukan survei untuk mengetahui kondisi kehidupan kuda di Gili Trawangan, dan ternyata kondisinya cukup menyedihkan. Kuda-kuda itu terpaksa bekerja berjam-jam tanpa batas waktu," katanya.
Selain itu kuda-kuda tersebut juga tidak mendapat tempat perlindungan dari matahari selama jam kerja dan tidak ada dokter hewan yang akan menangani kuda jika sakit, serta tidak ada tukang besi yang membuat sepatu kuda di pulau tersebut.
Beberapa pemilik juga tidak memotong kuku kudanya, dan ironisnya hewan tersebut hanya disediakan air asin untuk minum karena para pemilik tidak membeli air bersih.
Kondisi ini mengakibatkan masa hidup rata-rata kuda di Gili Trawangan hanya tiga tahun, sementara kuda di tempat lain biasanya dapat mencapai usia empat puluh tahun lebih.
Kondisi menyedihkan yang dialami kuda-kuda di Gili Trawangan itu membuat turis yang berkunjung lebih cepat mengakhiri liburan mereka karena melihat perlakuan tidak layak terhadap hewan tersebut.
JAAN dan PETA mendesak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memperhatikan kondisi hewan tersebut, karena kalau tidak jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke objek wisata bahari itu akan berkurang.

Tidak ada komentar: